gemakeadilan.com Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) setiap tanggal 1 Mei menjadi momentum penting bagi kalangan pekerja di seluruh dunia untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada pemangku kebijakan. Tahun ini, pada Jumat 1 Mei 2026, Aliansi Buruh Jawa Tengah (“ABJAT”), serta serikat buruh lainnya dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan aliansi Mahasiswa se-Semarang, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang. Aksi peringatan May Day tahun ini berlangsung dengan nuansa yang cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aksi yang dilakukan oleh kalangan buruh dan mahasiswa berjalan lebih tertib dan terorganisir, namun tidak kehilangan semangat perjuangannya.
Aksi dimulai sejak pukul 13.00 WIB, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan orasi dari masing-masing perwakilan serikat buruh yang menyampaikan sejumlah tuntutan 11 (sebelas) isu nasional serta 4 (empat) isu lokal. Beberapa tuntutan mencakup desakan pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru, penghapusan sistem alih daya (outsourcing), penegakan upah yang layak, serta peningkatan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (“K3”).
Seorang perwakilan buruh menyampaikan bahwa, “Terkait isu nasional yang menjadi prioritas para pekerja agar segera mengesahkan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru bukan merevisi sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi No. 168/PUU-XXI/2023. Namun hingga saat ini, belum ada kejelasan terkait draf resmi mengenai aturan tersebut.” Selanjutnya ia juga menegaskan bahwa pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru ini agar regulasinya sesuai dengan yang dibutuhkan di lapangan.
Tidak hanya itu, ia juga menyoroti isu-isu buruh yang terjadi di Jawa Tengah, Terkait isu lokal, kami meminta pemerintah Jawa Tengah untuk melindungi para pekerja bagian Konstruksi bangunan agar mendapat perlindungan keselamatan kerja serta memaksimalkan upah buruh sektoral,”ujarnya disela-sela aksi. Tak selang lama sekitar pukul 14.00 WIB, sejumlah Mahasiswa dari berbagai Universitas di Semarang turut bergabung dalam aksi untuk menyuarakan suara masyarakat yang belum membaik seutuhnya. Mereka menyuarakan kritik terhadap Upah Minimum Provinsi (“UMP”) di Jawa Tengah yang belum sesuai dengan beban pekerja serta pengoptimalan jaminan keselamatan kerja. Ketua Bidang Sosial dan Politik BEM Universitas Diponegoro, Fadhil Dzikra, mengungkapkan keresahan terhadap isu-isu buruh, "Jawa Tengah memiliki angka kemiskinan cukup tinggi yang dipengaruhi oleh gaji UMP yang masih sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.”
Merespons aksi tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung menemui massa sekitar pukul 15.00 WIB. Dalam audiensi yang melibatkan perwakilan buruh dan mahasiswa, Luthfi menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menyerap dan mengakomodasi seluruh aspirasi pekerja. “Semua saya terima, saya akomodir, saya berikan semangat. Kita punya desk tenaga kerja, buruh merupakan investasi daripada pembangunan. Polda Jateng siap mengawal peningkatan hukum apabila terjadi hak dan kewajiban yang tidak dipenuhi oleh pemilik usaha,“ ujarnya pada saat audiensi.
Dalam dialog tersebut, berbagai isu disampaikan, mulai dari jaminan kecelakaan kerja, hingga kebijakan 3 (tiga) juta rumah untuk buruh. Gubernur juga mengapresiasi pelaksanaan aksi May Day yang berlangsung tertib dan damai di 35 (tiga puluh lima) kabupaten atau kota se-Jawa Tengah. Aksi May Day 2026 di Semarang diakhiri dengan penyerahan dokumen tuntutan secara resmi kepada pemerintah provinsi. Namun seusai audiensi, massa aksi masih merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Gubernur Jawa Tengah. Alih-alih menjawab secara konkret, respon yang diberikan Gubernur terhadap tuntutan dirasa bersifat normatif dan tidak menjawab akar dari permasalahan.
Kecewa namun tidak gentar, Aliansi Gerakan Rakyat Pemuda Jawa Tengah menegaskan bahwa perjuangan ini belum berakhir dengan menyatakan 2 (dua) sikap resmi. Pertama, menyatakan kekecewaan atas jawaban Gubernur Ahmad Luthfi dan kedua, akan menyiapkan eskalasi aksi massa dalam waktu dekat sebagai bentuk perlawanan lanjutan.
Reporter: Gola Arpanji, Amellia Rachmayanti, Ibrena Maria Barus, Ryan Anugerah Rafael, Pranatama Simanjuntak, Vincentius Nathanael, Elvan Nadeak, Azarine Naila, Nabila Abhista
Penulis: Elvan Pranata Nadeak
Penyunting: Ibrena Maria Quinta Barus, Amellia Rachmayanti. Ryan Anugerah Rafael, Gola Arpanji